Kerajaan Surabaya Lebih Tua Dari Mataram

Standar

Kisah tentang Kerajaan Surabaya bukan hanya cerita khayalan. Sebab sastrawan Surakarta, Ki Padmosusastro 1902, menyisipkan penggal kisah kerajaan kecil di sudut Bang Wetan (Jawa Timur) ini dalam Kitab ‘Sedjarah Dalem’ yang saya baca beberapa waktu lalu di sebuah perpustakaaan. Setidaknya ini bisa meyakinkan.
begini tulisannya jika diartikan dalam bahasa Indonesia: Kerajaan Surabaya diperkirakan lahir 1365, jauh lebih tua dibanding Mataram yang lahir pada 1577. Namun kerajaan Surabaya secara resmi bubar setelah kekuasaan jajahan Mataram di Bang Wetan ‘beralih’ ke kompeni 1755. Akhir kerajaan Surabaya, tidak lepas dari pengaruh Mataram.
Namun kekuasaan Surabaya baru benar-benar hilang ketika penguasa Hindia Belanda Van Imhoff, berkunjung ke Surabaya pada 11 April 1746. Diperkirakan kerajaan ini berdiri selama tidak kurang dari 375 tahun.
Digambarkan, Pengaruh Kerajaan Surabaya meliputi Bang Wetan, Kalimatan Selatan, Kalimatan Timur, Pulau Sulawesi bagian tengah hingga selatan dan sebagian kepulauan Maluku bagian selatan. Surabaya adalah kerajaan niaga terakhir yang memiliki hubungan dengan Portugis, Belanda, Inggris, dan Tiongkok.
Menurut Padmosusastro, tidak tercatatnya nama raja-raja Surabaya karena minimnya sastra tulis di jawa pesisiran. seperti lazimnya kerjaaan di pedalaman Jawa. Namun penguasa Surabaya yang paling terkenal adalah raja abad 17 karena keberaniaanya menolak hegemoni tiga raja Mataram.
Catatan Padmosusastro menyebut nama Raja Surabaya itu adalah Jayalengkara. Putra raja ini lebih tersohor, yaitu Pangeran Pekik. “Pengeran Pekik sempat menggantikan ayahnya menjadi Raja Surabaya. Dia menikahi Adik Mas Rangsang alias Sultan Agung Hanyokrokusumo yang bernama Ratu Mas Pandan atau Ratu Pandansari,” begitu tulis Padmosusastro dalam bahasa Jawa di kitabnya.
Dijelaskannya, sejak Panembahan Senopati Ingalaga alias Sutawijaya memimpin Mataram Islam 1577, dia telah melihat potensi Surabaya yang sulit ditundukkan. Padahal Senopati bermimpi bahwa Mataram mewarisi tradisi Pajang yang berarti berkewajiban melanjutkan tradisi penguasaan atas seluruh tanah Jawa. Namun faktanya, Surabaya menjadi slilit bagi mimpi Senopati itu.
Catatan lain juga muncul. Kali ini seorang antropolog zaman Belanda, Dr de Graaf, yang menjelaskan jika Panembahan Senopati (1586 – 1601) yang bernafsu menguasai Surabaya tidak terlaksana hingga akhir kekuasaannya.
Penggantinya, Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak (1550-1613) juga gagal mewujudkan keinginan ayahnya menyatukan Jawa karena ganjalan Surabaya. Setiap raja Mataram selalu mencoba menyerang Surabaya namun selalu mental.
Hingga Raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1645), yang berkeinginan mewujudkan mimpi buyutnya. Namun kekuatan militer Mataram tidak pernah benar-benar bisa menyeberang sungai Brantas.
Di dalam catatan yang saya temukan, Surabaya tidak hanya bertahan. Kerajaan ini sempat dua kali menyerang pusat kerjaaan Mataram di Kotagede selatan Jogjakarta. Yaitu pada 1614-1616. Namun dua kali pula serangan balasan ini juga kandas.
Kisah ini tidak pernah tertungkap dalam sejarah resmi kerajaan di tanah Jawa

Kissanak.wordpress.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s